Jumat, 10 Februari 2017

Sakit itu cara allah menghapus dosa kita

16 oktober 2015. Siapa sangka pada saat itu allah menurunkan ujian yang sangat berat keapa hambanya. Bukan karena DIA membencinya, tapi DIA sangat menyayanginya, melihat potensinya, ketika di himpit oleh masalah, cobaan dan sakit. Dan itu yang waktu itu aku rasakan. Siapa sangka? Kejadian yang sangat singkat dan bahkan hal yang sangat sepele. Serasa saat itu mimpiku menjauh perlahan. Perlahan semakin tak terlihat dan semakin gelap. Aku merasa bahwa itu pertandingan terakhirku untuk semua yang aku bangun dan perjuangkan dari kecil. Saat itu aku mengikuti pertandingan yang mempertemukan kampungku dan kampung orang lain. pertandingan berjalan sangat seru, disaksikan oleh warga kampung yang berdatangan untuk menikmati hiburan dikala lelahnya pekerjaan yang mereka jalani dari terbitnya fajar. Jual beli serangan terjadi dikala itu, pertandingan yang memeras otot hingga otak sehingga menghasilkan gol untuk masing-masing tim yang berakhir 2-1 untuk kemenangan timku pada babak pertama. Semua pemain turun minum untuk sejenak meneguk segarnya air diwaktu teriknya matahari, sembari mendengarkan intruksi pelatih kami melemaskan otot-otot kami untuk menghindari keram saat pertandingan.

Babak ke 2 dimulai. Disinilah awal dari ujian itu dimulai. Aku mencoba untuk berlari memotong bola muntah yang mengarah kegawangku, ketika aku mengangkat dan menyapu bola itu serasa kakiku seperti memutar, "Kraakkkkk!!!!" Aku merasakan bahwa tulangku saling beradu dilututku, psikis ku terganggu, serasa lemas, kakiku bengkak dan tak dapat digerakan. Rasaku ingin muntah, pendengaranku agak terganggu sedikit saat itu, rasa sakit yang sangat luar biasa, yang baru pertama kali aku rasakan selama bermain bola. Orang-orang menghampiriku untuk menolongku yang tergeletak dipinggir lapangan. Akhir nya rasa sakit itu perlahan hilang, dan kakiku sudah dapat dirasakan lagi. Tapi serasa ada yang beda, lututku serasa menggantung, "Ah mungkin ini hanya ototku yang bermasalah" kataku dalam hati. Akhir nya aku diganti sembari untuk beristirahat. Pertandingan selesai dan aku kembali kerumah. Dirumah aku mencoba meredakan pembengkakan dengan cara menempelkan batu es agar bengkak cepat hilang. Puncak sakit itu dimulai hari berikutnya. Aku kesusahan untuk berjalan, untuk menepakan kaki pun serasa berat sekali. Bengkakku bukannya mengecil malah bertambah besar. Aku hanya bisa berdiam diri dikamar karena saat itu libur sekolah. 1 minggu berjalan bengkakku masih saja besar, tapi serasa sudah lebih baik dan tak terasa sakit.  Aku coba untuk jogging kecil demi menjaga kondisi. 2 minggu berjalan akhir nya aku memberanikan diri untuk berlatih dilapangan, tapi ada yang beda, psikisku terganggu, rasa takut untuk berlari, meloncat bahkan menyentuh bola. Dan benar saja, saat aku melakukan gerakan balik badan, dan sekali lagi lututku mengalami gesekan kembali, rasa yang sama ketika aku mendapatkan cedera itu. Akhirnya aku beristirahat lama demi memulihkan lutut, dan mengurangi gerakanku untuk mengurangi bengkak yang masih saja besar. 2 bulan lebih aku tidak menyentuh bola, yang aku lakukan hanyalah jogging, itu pun hati-hat. Padahal cedera pikirku ini hanya cedera ringan tapi kenapa lama sekali. Akhir nya aku coba untuk memeriksakan kakiku di RSUD semarang dan yang menangani langsunh adalah fisioterapi dari klub kebanggan kota semarang, PSIS. Ditangani langsung oleh Halim mardianto yang merupakan kepala fisioterapi di RS tersebut. Aku memanggilnya om halim, simple aja. Waktu di periksa katanya kakiku gak bermasalah hanya butuh istirahat, lega rasanya. Kakiku diberikan treatment untuk memulihkan kekondisi semula. 1-6x aku menjalani therapy itu, tapi aku merasa kakiku masih belum sembuh betul, yang benar saja kaki terasa tidak dapat mengunci, setiap melakukan gerakan explosive kekanan ataupun kekiri kaki kanan ku serasa goyang, bahkan tidak jarang tulangku saling berbenturan. Serasa frustasi, dan ingin menyudahi sebuah hobby bahkan mimpi yang harus diwujudkan dari kecil. Aku benar-bebar sudah berhenti. Seminggu itu aku benar tidak lagi latihan. Kerjaku hanya makan. Sampai akhirnya ada yang memberitahuku, bahwa apa yang kita sudah lakukan dari kecil gak boleh berhenti begitu saja, hidup itu harus punya skill atau kemampuan yang akan berguna suatu saat, entah itu pengaruhnya besar atau tidak. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memeriksakan kakiku diRSUD Kendal langsung ke dokter spesialis orthopedi dan bedah tulang, dan allah akhirnya menjawab semuanya, ligament ku yang bagian depan putus dan tidak dapat menyambung kembali, hanya ada 1 cara untuk menyelesaikan nya, lewat jalan operasi. Aku dirujuk ke RSUP katiadi, itu adalah rumah sakit terbesar di jawa tengah dan salah satu di indonesia. Aku bertemu dengan dr. Robin yang merupakan spesialis bedah dan cedera olahraga atlit. Akhir nya tanggal 1 agustus 2016 aku naik meja operasi. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, sebuah nikmat yang tak pernah terlupakan. Allah memberikan rasa sakit untuk menghapus dosa kita.



                                        Be patient😊